Home / Artikel / Revitalisasi SMK sesuai dengan ASEAN Mutual Recognition Arrangements

Revitalisasi SMK sesuai dengan ASEAN Mutual Recognition Arrangements

Pemaparan materi sesi 1 dalam seminar nasional “Sinergi Pengembangan Pendidikan Vokasi di Era Masyarakat Ekonomi Asean” adalah Sulistiyo Mukti Mulyono, S. E., M. B. A. Tema yang disampaikan yaitu Revitalisasi SMK sesuai dengan ASEAN Mutual Recognition Arrangements. ASEAN Mutual Recognition Arrangements (MRA) adalah pengaturan kerangka kerja yang dibentuk untuk mendukung liberalisasi dan memfasilitasi perdagangan jasa di wilayah ASEAN. MRA bertujuan untuk memfasilitasi mobilitas profesional / tenaga kerja terampil di ASEAN. Melalui pertukaran informasi, MRA juga bekerja menuju penerapan praktik terbaik mengenai standar dan kualifikasi. Sebanyak delapan mobilitas keterampilan yang disetujui pada saat ini agar dapat mendorong adopsi dan harmonisasi standar dan prosedur yang berlaku. Mobilitas Keterampilan dikelompokkan berdasarkan:

  1. Modalitas utama untuk pekerja terampil teknis / kejuruan dengan keterampilan sederhana (misalnya ubin, tambak udang);
  2. MRS akan diperlukan untuk negara-negara dengan sistem ketrampilan yang kurang berkembang karena arus pekerja migran berketerampilan rendah akan berlanjut karena kondisi demografi dan kesenjangan ekonomi dan regional yang ada;
  3. Seiring waktu, pengakuan keterampilan bersama untuk pekerjaan dengan keterampilan menengah-rendah (misalnya sektor konstruksi, garmen, agribisnis dan perikanan) dapat menyediakan saluran yang lebih mudah dikelola, transparan dan aman untuk pekerja migran – akan meningkatkan keseluruhan pekerja secara keseluruhan.

Adapun sebanyak delapan mobilitas keterampilan tersebut antara lain:

  1. Insinyur (Desember, 2005)
  2. Perawat (Desember, 2006)
  3. Arsitek (November, 2007)
  4. Tenaga Survei (November, 2007)
  5. Praktisi Medis (Februari, 2009)
  6. Dokter Gigi (Februari, 2009)
  7. Akuntan (Februari, 2009)
  8. Tenaga Pariwisata (Januari, 2012)

Implementasi mobilitas keterampilan di Indonesia berupa penyusunan SKKNI yang mengutamakan pada 12 Sektor Prioritas Implementasi MEA berdasar 8 Bidang Profesi MRA-ASEAN. Adapun 12 Sektor Prioritas Implementasi MEA terdiri dari 7 Sektor Barang dan 5 Sektor Jasa, sector tersebut adalah:
7 Sektor Barang:

  1. Agro-based products
  2. Automotive
  3. Electronics
  4. Fisheries
  5. Rubber based products
  6. Textiles and Apparel
  7. Wood- based products

5 Sektor Jasa:

  1. Air travel (Air Transport)
  2. e-ASEAN
  3. Healthcare
  4. Tourism
  5. Logistics

Meskipun ICT bukan bagian 8 bidang Skill MRA, negara ASEAN setuju bahwa tenaga kerja bidang ICT bebas bergerak antar negara ASEAN. Saat ini telah dirancang definisi standar dari 7 Skill bidang ICT :

  1. Software development;
  2. ICT project management;
  3. Enterprise architect design;
  4. Network and system administration;
  5. Information system and network security;
  6. Cloud computing
  7. Mobile computing

Hal ini selaras dengan tantangang lingkungan belajar abad 21 yang menunjukkan Generasi baru siswa mengharapkan adanya lingkungan belajar yang mengintegrasikan perangkat digital, menampung gaya hidup mobilitas tinggi, menyesuaikan dengan gaya belajar individu dan mendorong kolaborasi serta kerja sama tim.

Visi meliputi:

  1. Multilingual
  2. Multi/Cross-Culturally Competent
  3. Critically Information Literate
  4. Technologically Fluent
  5. Academic Lifelong Learner
  6. Economically Engaged
  7. Artistically Expressive
  8. Democratic Citizen

Learning meliputi:

  1. Creativity dan Innovation
  2. Critical Thinking dan Problem-solving
  3. Communication dan
  4. Collaboration

ICT Meliputi:

  1. Information Literacy
  2. Media Literacy
  3. ICT Literacy
  4. Financial Literacy

Sehingga MEA akan meningkatkan kesejahteraan dan penghidupan masyarakat ASEAN dengan memberi mereka akses yang adil terhadap peluang pembangunan manusia dengan mempromosikan dan berinvestasi dalam pendidikan dan pembelajaran seumur hidup, pelatihan sumber daya manusia dan pengembangan kapasitas, mendorong inovasi dan kewirausahaan, mempromosikan Penggunaan bahasa Inggris, ICT dan ilmu pengetahuan dan teknologi terapan dalam kegiatan pengembangan sosial ekonomi.

Upaya untuk meningkatkan daya saing dalam menghadapi MEA pada Pembelajaran di SMK perlu diadakan Pembelajaran yang mempromosikan keterampilan tingkat tinggi berupa:

  1. Pembelajaran kolaboratif
  2. Pembelajaran dari pengalaman
  3. pembelajaran berbasis masalah
  4. pembelajaran yang terfokus pada hasil
  5. Pembelajaran berbasis kegiatan /praktik
  6. Pembelajaran interdisipliner dan multi-konteks
  7. Pembelajaran sistem pikir
  8. Diskusi dan tanya jawab interaktif
  9. refleksi / penilaian rekan dan pemberian tantangan

Untuk itu dikembangkanlah Program Dual pada SMK yaitu yang mengimbangkan belajar disekolah dan di industry. Elemen Utama Dual system di SMK meliputi:

Tentunya untuk mendukung sistem dual diperlukan SMK di Kawasan Industri. SMK di Kawasan Industri adalah SMK yg berada di kawasan industri atau SMK yang memiliki partner  >200 industri yang  menjalankan proses pembelajaran secara dual. Programnya berupa:

  1. Penyusunan kurikulum bersama
  2. Tempat praktik siswa
  3. On the job training guru
  4. Pemanfaatan Sarpras industri
  5. Guru tamu  industri  di SMK
  6. Pendidikan karakter
  7. Pengembangan budaya kerja
  8. Uji kompetensi  Siswa
  9. Uji kompetensi  Guru
  10. Pemasaran tamatan
  11. Partner teaching factory SMK
  12. Progam dual system SMK-industri
  13. Hub industri bagi SMK lain
  14. Program retooling Lulusan
  15. Data based pendidikan

yang akan menghasilkan Pelaksanaan pembelajaran yang efektif dan efisien dan Lulusan SMK sesuai  standar kebutuhkan industri. Pengembangan Kebekerjaan SMK 3 tahun dan SMK 4 tahun juga diperlukan untuk menunjang proses belajar di industri. Adapun mekanisme pelaksannanya sebagai berikut:

Selanjutnya membuka SMK berbasis Industri Unggulan Lokal

  1. SMK yang memiliki unggulan lokal dan berpotensi menjadi penggerak industri unggulan lokal;
  2. Pembelajaran produktif berbasis  unggulan wilayah  dengan memanfaatkan bahan baku lokal dan industri lokal;
  3. Membangun kemitraan dengan industri
  4. Berperan-serta dalam pertumbuhan ekonomi  lokal.
  5. Pembelajaran wirausaha & pembekalan kerja mandiri;
  6. Meningkatkan nilai tambah bahan baku lokal.

Tantangan kedepan semakin berat, bapak ibu guru tidak hanya mengajar, mengajar dan mengajar namun juga harus berinovasi dalam pembelajaran sehingga materi yang diajarkan tepat dan sesuai dengan kemauan pasar (industri). Sekolah tidak hanya meluluskan siswa (supply) namun harus menyesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja (deman) sehingga terjadi keselarasan dan kebekerjan. Semoga bermanfaat.

Salam,

Irfan F. Wibisono

About adminsmk2

Check Also

IMPLEMENTASI KEGIATAN LITERASI DI SEKOLAH

Saat ini, kegiatan di sekolah ditengarai belum optimal mengembangkan kemampuan literasi warga sekolah, khususnya guru …